Iklan Investor Pialang
Kamis, 21 Juni 2018 | 20:55 WIB

ICU Hanya Untuk Perawatan Pasien Parah

Sabtu, 05 Januari 2013 / nasional / antara

OTDANEWS.COM, Depok - Publik kembali geger ketika tersiar kabar bahwa bocah penderita leukemia, Ayu Tria Desiani (9 tahun) meninggal di ruang ICU RSAB Harapan Kita dan penyebabnya cukup aneh karena ruang perawatan intensif itu dipakai lokasi syuting sinetron.

Dipakainya ruang unit perawatan insentif (ICU) tersebut dinilai mengganggu kenyamanan perawatan pasien.

Menurut Ida, staf Bagian Humas Rumah Sakit Anak & Bunda (RSAB) Harapan Kita, lokasi syuting dan lokasi perawatan berada di tempat berbeda. Tempat syuting sinetron berada di ruang ICU Wijaya Kusuma, sedangkan pasien ada di ruang khusus ICU untuk perawatan pasien, namun tetap saja hal itu tidak sepantasnya dilakukan.

Ahli penyakit dalam dari RSCM, dokter Aru Sudoyo, Sp.PD menyebutkan, tidak semestinya sebuah ruangan intensif dipakai untuk kegiatan syuting film atau sinetron, terlebih jika di dalamnya ada pasien.

Ruang ICU adalah bagian perawatan yang dikhususkan untuk pasien penyakit yang mengancam atau potensial mengancam nyawa, dengan sarana dan prasana khusus guna menunjang fungsi-fungsi vital pasien. Di ruangan ICU, pasien dipantau selama 24 jam oleh staf medis khusus. Risiko infeksi di sini juga sangat tinggi sehingga ruangan harus steril.

Ayu, penderita leukemia sejak usia dua tahun menurut ayahnya, Kurnianto Ahmad Syaiful (47), saat itu masuk rumah sakit karena diare yang cukup serius sehingga diharuskan masuk ke ruangan ICU rumah sakit.

"Anak saya ngedrop, kemudian saya bawa ke Harapan Kita. Sampai RS langsung ditangani di UGD. Setelah dicek, ada pembuluh darah pecah. Dokternya nyaranin ke ICU. Sampai ICU agak sedikit kurang nyaman karena dalam ruangan di pakai syuting," katanya.

Di dalam ruangan tersebut, ujarnya, penjenguk harus menggunakan pakaian steril, sedangkan kru film keluar masuk ruangan tanpa menggunakan baju khusus. Saat itu di luar ruangan, masih ada persiapan syuting, dari ruang UGD yang berada di lantai 1 sampai ke pintu masuk ICU dan dipasang lampu sorot.

"Saya merasakan tidak nyaman, harusnya masuk pintu utama ke ICU, tapi ini jadi masuk pintu samping karena ada syuting," ujar Kurnianto.

Sementara itu sutradara sinetron seri Love in Paris, Femmy Sagita menjelaskan, kegiatan syuting yang dilakukannya di ruang ICU RSAB Harapan Kita, tidak ada hubungannya dengan meninggalnya Ayu, karena pasien datang setelah shuting selesai.

Dia juga menjamin bahwa syuting tersebut tidak mengganggu kenyamanan pasien dalam perawatan. "Sebenarnya kami sudah menempati ruang (lain) di rumah sakit itu dan meminjam beberapa alat rumah sakit. Kemudian, pihak rumah sakit menawarkan untuk memakai tempat ICU yang sesungguhnya. Kami lalu pindah ke ruang ICU yang jarang dipakai itu." Komisioner KPAI Bidang Kesehatan, sekaligus Wakil Ketua KPAI, Iswandi Mourbas menilai, pelayanan kesehatan bagi pasien mestinya didahulukan dari kepentingan apapun, terlebih pasien dalam keadaan darurat.

"RS yang mengizinkan ICU dipakai syuting sangat kita sayangkan. Kalau syuting harus di ruang ICU, bikinlah tempat yang lain seolah-olah itu ICU. Mereka kan katanya kreatif," ujarnya sambil menambahkan bahwa penggunaan ruang ICU di saat ada pasien yang membutuhkan pertolongan, untuk syuting juga melanggar UU Kesehatan.

Terkait hal itu, KPAI mengirim surat protes keras kepada manajemen RSAB Harapan Kita dan meminta penggunaan ruang ICU untuk syuting sinetron dihentikan, agar kasus yang menimpa Ayu tidak terjadi lagi pada pasien lainnya.

Lembaga independen ini juga mengirim surat kepada Kementerian Kesehatan yang isinya mendesak agar kementrian memberi teguran keras dan sanksi tegas kepada RSAB Harapan Kita serta semua rumah sakit di Indonesia yang melanggar UU Kesehatan.

Jika lalai bisa dipecat Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi kaget saat diberitahu bahwa ruangan ICU RSAB Harapan Kita yang harus steril dipergunakan untuk syuting film. Dia langsung menurunkan tim investigasi ke RSAB Harapan Kita, sementara Direktur Utama Achmad Subagyo dipanggil ke kantor Kementerian Kesehatan.

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyebutkan, direktur rumah sakit itu sudah memberikan klarifikasi dan menyatakan informasi itu tidak benar. "Saya sudah cek pada Dirut RS-nya, dia bilang tidak benar. Itu syuting tidak di ICU tapi di sebelahnya ICU." Pasien itu setelah distabilisasi langsung masuk ke ICU. "Namun demikian kami tetap kirim tim untuk verifikasi dan tim bertugas mengumpulkan keterangan mengenai apa sebenarnya yang terjadi," kata Menkes.

Menurut Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan Kemenkes, Chairul Radjab, bila tim investigasi menemukan adanya kelalaian dari pihak RS, jika benar syuting menyebabkan pasien meninggal dunia, maka Dirut Harapan Kita bisa saja dipecat.

Dalam pertemuan itu Chairul sudah meminta penjelasan kepada pimpinan RS tersebut. "Nantinya hasil pertemuan dengan dirut akan diperbandingkan dengan hasil investigasi, apakah syuting tersebut menyalahi aturan atau tidak." Sebuah rumah sakit seharusnya lebih mengutamakan kepentingan pasien ketimbang kepentingan komersial, seperti lokasi syuting sinetron - hal yang dinilai tidak patut dilakukan oleh kru film "Love in Paris" dan pihak Rumah Sakit AB Harapan Kita.

"Bagaimana bisa sebuah rumah sakit yang harusnya mengutamakan kepentingan pasien justru mencari pendapatan tambahan dengan menyewakan ruang perawatan," ujar anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Okky Asokawati.

Dia mengaku prihatin dan mengecam tindakan yang dilakukan pihak rumah sakit. Terlebih, pasien sakit tidak mengenal hari-hari libur. Ia menuntut Direktur Utama RSIA Harapan Kita untuk bisa mempertanggungjawabkan tindakannya itu.

Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Prijo Sidipratomo menegaskan, syuting di rumah sakit merupakan pelanggaran etika rumah sakit. Apalagi, syuting berlangsung di ICU tempat pasien kritis. "Jika mau promosi rumah sakit, jangan pakai cara-cara seperti itu." Dirut RSAB, meminta maaf kepada keluarga Ayu Tria atas ketidaknyamanan yang terjadi saat dilakukan syuting. Syuting di ICU sebagai promosi mengenalkan rumah sakit di RSAB Harapan Kita, bukan hal baru dan tidak dipungut bayaran. Namun dengan insiden ini, saya melarang ada syuting lagi di rumah sakit. Sementara itu Tim investigasi Kementerian Kesehatan mengakui ada situasi bising di ruang ICU saat dokter merawat Ayu Tria. "(Ada) gangguan situasi di sana (ruang ICU) yang mengganggu (pasien). Kami akan lihat dan menindaklanjuti sesuai arahan Menteri Kesehatan," kata Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan Chairul Radjab.

Adanya fakta bising di ruang ICU itu, mendorong Kemenkes memberi sanksi teguran kepada Dirut RSAB Harapan Kita. "Sanksi teguran itu sesuai aturan yang berlaku." Syuting di rumah sakit, apalagi di ruang ICU selain tidak etis dan tidak pantas, bisa mengganggu ketenangan pasien serta melanggar aturan, karena kerabat si sakit saja biasanya tidak boleh masuk ke ruang tersebut. ICU adalah tempat pasien parah diberi perawatan serta pertolongan medis dan bukan untuk disorot-sorot kamera. (ANTARA)

Dibaca : 2993 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER