Iklan Investor Pialang
Senin, 26 Februari 2018 | 00:09 WIB

HNI Untuk Indonesia

" Harmony Nusantara Institute "

Selasa, 25 September 2012 / nasional / otda
HNI Untuk Indonesia
Tim HNI foto bersama dengan Board of Presidents of Guangdong Research Institute for International Strategies dan Teachers of Law School of Guangdong University of Foreign Studies

Perjalanannya ke Cina untuk menghadiri undangan seminar dan diskusi berlevel internasional, membuka mata Sigismond B.W. Notodipuro untuk membuat lembaga think tank yang berperan sebagai mediator antara dunia internasional, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah serta masyarakat dalam rangka membangun harmonisasi di tanah ibu pertiwi.

Dirinya cukup terkejut ketika mengetahui pemahaman para peserta yang menjadi audiens diskusi di Sun Yat Sen University, Guangzhou, China mengenai Negara Indonesia. Dalam diskusi tersebut, Sigismond B.W. Notodipuro akhirnya mencoba untuk meluruskan persepsi peserta forum diskusi yang didominasi oleh masyarakat Tiongkok. Ia menambahkan, bahwa dalam forum diskusi tersebut banyak yang belum mengetahui tentang Indonesia yang sebenarnya. Berawal dari hal tersebut, Sigismond tertarik untuk membuat suatu lembaga think tank yang berfungsi untuk mengkaji kebijakan publik, pemerintah, luar negeri, dan memperkenalkan kepada dunia internasional tentang Indonesia.


Sigismond BPW Notodipuro, Director Executive HNI saat diterima secara resmi dan berkenalan dengan SUI Guang Jun, Chairman of University Academic And Administrative Committee, Executive Deputy Director of Guangdong Research Institute for International Strategies (GRIIS), Secretary General of Communist Party of PRC 


 

Harmony Nusantara Institute (HNI) sebuah lembaga think tank yang menghasilkan riset, analisis, dan saran yang berorientasi pada kebijakan public tentang berbagai masalah domestic maupun internasional.  Didirikan pada satu Maret 2012 oleh Sigismond B.W. Notodipuro dan kawan-kawannya dengan misi menjadikan HNI sebagai organisasi non-profit yang membantu peningkatan kebijakan publik dan pembuatan keputusan melalui analisis dan riset.

 

“Melalui dedikasi kami yang berkualitas tinggi dan analisis penelitian, HNI mendorong mitranya untuk menciptakan pengetahuan, informasi, dan solusi yang efektif,” tuturSigi, sapaan akrabnya, ketika diwawancarai oleh Majalah OTDA Indonesia beberapa waktu lalu.

 

 

 


Sigismond BPW Notodipuro, Director Executive HNI menjadi Keynote Speech pada Academic Seminar dengan tema ‘Defense Diplomacy Indonesia – PRC’


Ia menjelaskan, HNI akan bertindak sebagai jembatan antara komunitas akademis dan kebijakan. Lalu, juga melayani kepentingan public sebagai suara independen yang menerjemahkan penelitian terapan dan dasar ke dalam bahasa dan bentuk yang dapat dimengerti, dapat diandalkan, dan dapat diakses bagi para pembuat kebijakan dan masyarakat.

Sigi melanjutkan, dalam kaca matanya, Indonesia saat ini adalah sebuah fenomena dan menjadi primadona di kawasan Asia. “Pertumbuhan ekonomi stabil dimana 10 tahun terakhir berada dikisaran angka 7-6,5%. Faktor itulah yang menjadikan Indonesia menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi,” ungkapnya.

Berbekal dari fakta-fakta tersebut, pria yang selalu mengikuti perkembangan ekonomi dunia ini mulai mengajak teman-temannya dan mencetuskan untuk membuat suatu lembaga think tank guna mengkaji suatu isu dan mempublikasikannya.

Nama Harmony Nusantara Institute (HNI) dipilih, karena menurut Sigismond memiliki filosofi yang sangat bermakna. Sebagai putra bangsa, dirinya memiliki ambisi menciptakan keharmonisan dari sabang sampai ke merauke.

“Indonesia memiliki potensi menjadi salah satu negara super power di masa yang akan datang. Hal itu bukan sesuatu yang mustahil, tapi dengan catatan kita tetap menjaga keharmonian di berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Seperti pengalaman Sigismond, dimana saat ia berkunjung ke Australia, ternyata pihak Australia pun sangat berminat untuk menjalin kerja sama dengan lembaga think tank di Indonesia untuk mengkaji masalah yang berhubungan dengan kerja sama bilateral. Tidak hanya dengan Australia, Sigismond menambahkan sejauh ini HNI juga telah bekerja sama dengan lembaga think tank di China.


Merah Putih


Suasana Academic Seminar on Managing Crisis of South China Sea di North of GRIIS


Dalam konteks bagaimana menjaga visi dan misi tepat sasaran dan mempertahankan idealism serta ideologi, menurut Sigi, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, merah putih harus tetap ada di dada. Kedua, Objektivitas. Dalam kajiannya, HNI tidak boleh subjektivitas terhadap satu isu apapun. HNI wajib menjaga objektivitas dalam melihat sebuah permasalahan. “Ketika kita mengkaji sebuah kebijakan publik, jika memang kita temukan adanya penyimpangan atau masalah. Tentunya HNI akan kritis, tetapi kritik yang konstruktif tentunya”, ujar Sigi.

Ia mengatakan, dalam setiap kajiannya, HNI selalu melihat secara komprehensif. Mekanismenya adalah dengan membuat survey terlebih dahulu mengenai pandangan secara umum terhadap suatu isu. Kemudian mengundang lembaga-lembaga terkait yang ada di dalam pemerintah, ataupun di tengah-tengah masyarakat untuk bertemu lewat forum diskusi. Di forum tersebut kemudian akan muncul berbagai pendapat pribadi ataupun secara institusi. Dari sinilah tercipta suatu sebuah kajian dengan formulasi  yang menarik. Tetapi tidak berhenti disitu saja, dalam setiap kajiannya HNI juga selalu berupaya untuk memberikan solusi terhadap hasil kajian yang dilakukan.

Sigismond menambahkan poin terpenting dalam setiap kesepakatan kerja sama dengan negara lain adalah, ia selalu mengatakan bahwa apapun yang HNI lakukan adalah semata-mata untuk kepentingan bangsa Indonesia. HNI selalu menekankan bahwa semangat yang diusung adalah merah putih dan pancasila.

Dalam setiap kerja sama dengan lembaga manapun, HNI selalu membangun suatu hubungan yang dilandasi partnership. Hal ini untuk menjaga kerja sama bilateral yang HNI lakukan dapat berjalan dengan baik dan saling memberikan take and give,  tidak hanya sekadar menguntungkan satu pihak saja.

Saat ini HNI merencanakan melakukan sebuah survei yang bekerja sama dengan salah satu Negara asing, untuk melihat bagaimana persepsi masyarakat terhadap hubungan bilateral kedua belah pihak. “Kita juga sinkronkan bekerja sama dengan lembaga lain di luar negeri sejenis. Kemudian kita berikan masukan kepada lembaga pemerintah ataupun lembaga lainnya yang terkait dengan hasil survey,” katanya.

Untuk itu dengan usia yang masih tergolong sangat muda, lembaga HNI akan berafiliasi dengan setiap partai politik, pemerintah, kelompok kepentingan, atau perusahaan swasta atau elemen-elemen bangsa lainnya untuk mewujudkan harmonisasi di Indonesia. Walaupun nantinya akan bekerja sama dengan banyak pihak, tetapi Sigi memberikan jaminan bahwa HNI merupakan lembaga yang terbuka dan akan tetap menjadi independen.

Dibaca : 818 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER