Iklan Investor Pialang
Minggu, 25 Februari 2018 | 05:04 WIB

Mahasiswa IPB Rancang Strategi Kelola Kedai Digital

Jumat, 28 Juni 2013 / karya / antara

OTDANEWS.COM, Bogor - Tiga mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB merancang lima strategi jitu dalam mengelola kedai digital agar lebih profesional dan mendorong pengelolaan aset lebih maksimal.

"Kami sodorkan lima strategi baru untuk menciptakan profesionalitas tanpa menghilangkan nilai-nilai kekeluargaan yang ditempatkan pada situasi dan kondisi yang tepat," ujar Agus Sanjaya satu dari tiga mahasiswa IPB yang merancang "Strategi lima pilar Kedai Digital" dalam siaran pers Humas IPB kepada Antara, Jumat.

Menurut Agus, sistem kekeluargaan yang diterapkan oleh Kedai Digital mulai menimbulkan berbagai macam problem baik internal maupun eksternal.

Dikatakannya, sistem kekeluargaan cenderung konservatif. Untuk itu, tiga mahasiswa IPB ini menawarkan lima pilar perbaikan kinerja Kedai Digital.

Lima pilar tersebut adalah membentuk SDM yang berkualitas serta profesional, pembenahan franchise, pembenahan strategi pemasaran, penambahan modal dan yang terakhir adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi produksi operasi.

Agus menjelaskan, Kedai Digital merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang merchandise dalam proses digital. Melalui proses digital ini, maka berbagai macam bentuk merchandise dapat dibuat sesuai keinginan konsumen dengan kualitas baik.

Kedai digital adalah usaha merchandise yang cukup terkenal di pulau Jawa terutama di Yogyakarta dengan target pasar anak muda dengan inovasi produk unik dan beragam.

Hingga saat ini, lanjut dia, Kedai Digital telah memiliki franchise sebanyak 62 cabang yang tersebar di berbagai kota di Indonesia dengan omset rata-rata setiap cabang adalah Rp 25 juta per bulan.

"Pada tahun 2015 Kedai Digital mentargetkan menjadi perusahaan Merchandise yang memiliki 100 cabang," katanya.

Namun, lanjut Agus, obsesi tersebut agak tersendat dikarenakan kurangnya profesionalisme diantara para karyawan, juga cabang franchise yang ada.

"Maka dari itu, kami menawarkan lima strategi baru untuk menciptakan profesionalitas tanpa menghilangkan nilai kekeluargaan," ujar Agung selaku Ketua Tim.

Agus menjelaskan, analisis masalah yang dilakukan menemukan ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Misal konsep franchise yang diterapkan tidak secara mutlak (sistem kekeluargaan), adanya pelanggaran hak merek di salah satu cabang, penetapan harga yang berbeda antar cabang, quality control dari produk yang berbeda, modal yang terbatas, belum maksimalnya SOP franchise dan tidak efektifnya jalur distribusi.

Berdasarkan analisis tersebut, ketiga mahasiswa IPB ini menyusun strategi teknis yang mencakup restrukturisasi manajemen berupa penambahan divisi pemasaran, divisi R&D serta divisi franchise yang fokus pada pengembangan franchise di setiap regional.

"Pembenahan sistem franchise dengan membentuk franchise development," katanya.

Untuk bidang pemasaran, lanjut dia, diperlukan standarisasi strategi pemasaran yang terintegrasi agar masing-masing cabang mempunyai unit bisnis model yang seragam.

Perusahaan, kata Agus, perlu juga untuk menggelar program promosi kreatif seperti melalui sosial media marketing, "sales promotion monthly", "below the line marketing" dan meningkatkan promosi kepemilikan franchise dengan upaya pencitraan merek melalui perolehan badan usaha serta hak paten.

Untuk bidang keuangan, guna penambahan modal perusahaan bisa memanfaatkan skim Kredit Usaha Rakyat.

"Bidang produksi operasi mengalami masalah biaya distribusi yang tidak efisien, oleh karena itu kami merekomendasikan agar setiap regional franchise mencari supplier lokal yang berada di suatu pusat distribusi diantara beberapa franchise yang ada di regional tersebut," ujarnya.

Agus mencotohkan, untuk meningkatkan penjualan, sales promotion yang kami rancang dibedakan setiap bulannya. Misalnya bulan Januari "Free Medium (Yakni berupa kalender tahun terbaru setiap minimal pembelian Rp. 50.000), bulan Februari "Couple Romance Package (Buy 2 get 1 untuk setiap jenis produk), bulan Maret - Happy Hour (Diskon 10 persen untuk pembelian Mug dan Pin pada jam 08.00-10.00), bulan April "Women Discount (diskon 10 persen setelah akumulasi pembelian mencapai Rp. 50.000 berlaku untuk para perempuan dalam rangka memperingati Hari Kartini).

"Begitu seterusnya sesuai dengan tanggal-tanggal penting bulan tersebut," ujarnya lebih lanjut.

Selain itu juga, lanjut Agus, Kedai Digital juga harus melakukan pembenahan dalam sistem franchise dengan membuat divisi baru yang berfokus pada pengembangan franchise.

Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas, membuat sistem pengendalian Franchise Kedai Digital per regional, pembuatan kontrak pembayaran biaya royalti setiap franchise, dan program CSR sebagai wadah sosial kekeluargaan perusahaan.

"Semua strategi yang telah kami buat telah disusun berdasarkan skala prioritas yang semuanya dapat diimplementasikan oleh Manajenen Kedai Digital dalam mendukung visi kedai Digital di tahun 2015," katanya.

Strategi Lima Pilar Kedai Digital dirancang oleh tiga mahasiswa IPB yakni Agung Sanjaya, Raisha Pratidina, Soni Supriatna.

Ketiganya telah menjuarai Lomba Gajah Mada Bussiness Case Competition pada Management Event Universitas Gajah Mada di Yogyakarta.

Gelar sebagai juara ketiga diraih berkat karya berjudul Strategi 5 Pilar "Kedai Digital" yang mereka presentasikan.

"Alasan kami memilih kedai digital karena kedai digital merupakan usaha merchandise yang berpotensial besar untuk mengembangkan bisnis dan meraih peluang pasar," katanya.

Dibaca : 1248 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER