Iklan Investor Pialang
Rabu, 20 Juni 2018 | 18:28 WIB

Ridlwan Nasir dan Mukjizat Yang Ilmiah

Jumat, 16 Agustus 2013 / tokoh / antara

OTDANEWS.COM, Surabaya - Sebagai cendekiawan Muslim, Guru Besar Ilmu Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof Dr KHM Ridlwan Nasir MA sering menyelipkan bukti-bukti ilmiah dalam setiap ceramah atau pidatonya.

Misalnya, ketika ia berkhutbah tentang "Puasa untuk Membentuk Manusia Tangguh dalam Meraih Kehidupan Bahagia" saat Shalat Idul Fitri di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (8/8).

"Kebenaran Islam itu tercermin dari kemurnian Al Quran sejak diturunkan hingga kiamat yang dijamin Allah dalam Surat Al Hijr ayat 9," ucap Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Jaminan Allah antara lain terlihat dari adanya orang yang hafal Al Quran yang terdiri dari 114 Surat, 6.236 ayat, 74.437 kata, dan 325.345 huruf itu, padahal pemeluk agama lain belum ada yang hafal seperti itu.

"Bukti lain adalah Nabi Muhammad SAW adalah Ummi (tidak bisa baca tulis), sehingga Al Quran itu jelas bukan buatan beliau," tutur mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Tidak hanya itu, Al Quran sebagai mukjizat yang diturunkan secara bertahap selama 22 tahun dua bulan 22 hari itu juga memiliki kata-kata yang seimbang dan kata-kata dengan keseimbangan khusus.

"Kata-kata yang seimbang dalam Al Quran itu antara lain jumlah kata dengan antonim (lawan kata), seperti khoir (baik) yang berjumlah 167 kali, ternyata antonim-nya yakni syahru (jelek) juga berjumlah 167 kali," kilahnya.

Contoh lain, kata "hayat" (hidup) dan "maut" (mati) yang disebut dalam jumlah yang sama yakni 145 kali, kata "akhiro" (akhirat) dan "dun-ya" (dunia) yang juga sama-sama disebut 125 kali, atau kata "syaithon" dan "malaikat" yang sama-sama disebut 88 kali, dan sebagainya.

Adapula kata-kata yang memiliki keseimbangan khusus yakni kata "yaumi" (mufrat) yang berarti hari, ternyata disebut dalam jumlah 365 kali yang berarti setara dengan jumlah hari dalam setahun sebanyak 365 hari.

"Kata 'yaumaani' (jamak) yang disebut 30 kali, padahal jumlah hari dalam satu bulan rata-rata terdapat 30 hari. Selain itu, kata 'syahru assyahru' disebut 12 kali, padahal bulan dalam satu tahun ada 12 bulan. Kata langit juga disebut tujuh kali, padahal langit ada tujuh tingkatan. Jadi, ada keseimbangan khusus," tukasnya.

Tentu, ungkap A'wan Syuriah PWNU Jatim itu, jaminan Allah dan bukti-bukti ilmiah itu sudah cukup membenarkan bahwa Al Quran adalah mukjizat dan bukan buatan manusia sebagaimana tuduhan kaum orientalis.

"Alangkah indahnya bila kita menarik pelajaran penting dari keseimbangan kata-kata dalam Al Quran itu dengan menjalani kehidupan yang seimbang, yakni antara pikir dan zikir atau antara akhirat dan dunia, dan seterusnya," kupasnya.

Dibaca : 1104 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER