Iklan Investor Pialang
Senin, 26 Februari 2018 | 00:18 WIB

M.S. Hidayat, Menteri Perindustrian RI

" Industrialisasi Dengan Pendekatan Pengembangan Wilayah "

Kamis, 20 September 2012 / liputan khusus
M.S. Hidayat, Menteri Perindustrian RI
M.S. Hidayat, Menteri Perindustrian RI
Terkait :

Program MP3EI yang dicanangkan Presiden setahun yang lalu berusaha mengintegrasikan tiga elemen utama yakni mengembangkan koridor ekonomi nasional, memperkuat konektivitas nasional dan mempercepat kemampuan iptek nasional. Ketiga grandstrategies tersebut akan di breakdown untuk diimplementasikan oleh kementerian terkait. Bagaimana wujud implementasi di kementerian perindustrian? Menteri Perindustrian Mohammad S. Hidayat  akan mengupas mengenai peran Kemenperin dalam mengimplementasikan MP3EI ini. 


Berikut wawancara ekslusif Majalah Otda Indonesia dengan Menteri Perindustrian Mohammad  S. Hidayat di ruang kerjanya, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, belum lama ini. Berikut petikan :

Kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kehadiran Bapak Menteri Perindustrian, Seperti yang telah kita ketahui bahwa pada tahun 2011, Bapak Presiden telah mencanangkan MP3EI, bagaimana MP3EI ini kaitannya dengan industrialisasi melalui pendekatan pengembangan wilayah?

MP3EI berusaha mengintegrasikan tiga elemen utama yakni mengembangkan koridor ekonomi nasional, memperkuat konektivitas nasional dan mempercepat kemampuan iptek nasional. Untuk mengimplementasikan MP3EI ini, maka Kementerian Perindustrian memiliki strategi yang mendukung implementasi  MP3EI tersebut. Dalam upaya pembangunan koridor ekonomi, dikembangkan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan industri berbasis keunggulan komparatif yang dimiliki oleh daerah yang dilengkapi dengan penguatan konektivitas antar  pusat-pusat pertumbuhan industri dan juga dengan hub/gerbang penghubung internasional. Sementara itu, dalam rangka mempercepat kemampuan SDM dan IPTEK Nasional, maka dibangun pusat-pusat inovasi dan sekolah/politeknik yang berada di dalam pusat-pusat pertumbuhan. Pusat pertumbuhan  tersebut diwujudkan dengan pembangunan kawasan industri terpadu.

Bapak Menteri telah menjelaskan secara ringkas mengenai pembangunan pusat-pusat pertumbuhan industri yang diwujudkan dengan pengembangan kawasan industri terpadu, dapat diperjelas kira-kira seperti apa pembangunan kawasan industri terpadu yang Bapak maksud?

Strategi pengembangan pusat-pusat pertumbuhan yang dalam hal ini diwujudkan dengan pembangunan kawasan industri terpadu memiliki ciri-ciri bahwa kawasan industri tersebut harus mengarah pada pengembangan kota baru. Artinya tidak hanya sekedar diisi oleh bangunan pabrik, namun juga harus didukung oleh prasarana dan sarana layaknya sebuah kota. Ada pusat perbelanjaan, taman, pusat pendidikan, perumahan, tempat tamasya, dan lain sebagainya. Kawasan industri terpadu ini juga harus sudah terintegrasi dengan sistem logistik, karena penciptaan nilai tambah produk industri dapat dicapai dengan sistem logistik beserta manajemen rantai pasok yang efisien. Tentu saja kawasan industri juga akan dilengkapi dengan pusat inovasi, pendidikan kekhususan industri sehingga sumber daya manusia yang kompeten terintegrasi di dalamnya. Dan yang tidak kalah penting, kawasan industri terpadu ini harus berwawasan lingkungan, green industrial estate.

Berdasarkan konsep tersebut, pembangunan kawasan industri terpadu bertujuan untuk meningkatkan upaya pembangunan industri yang berwawasan lingkungan serta meningkatkan daya saing industri dan investasi. Perlu saya tekankan bahwa pembangunan kawasan industri, khususnya untuk kawasan industri diluar Jawa, harus berbasis kompetensi inti industri daerah (KIID) dan champion industry-nya harus sudah ada.

Kementerian Perindustrian lahir untuk menjadi penggerak utama dalam mendorong penyebaran industri di daerah, sejauh ini bagaimana pendekatan Kementerian Perindustrian dalam mengemban amanah ini?

Dalam upaya meningkatkan pembangunan dan pengembangan industri di daerah serta dengan memperhatikan tuntutan pasar internasional maka menjadi suatu tantangan untuk mempercepat pembangunan industri di daerah yang dilakukan secara terintegrasi dengan sektor ekonomi lainnya. Upaya percepatan pembangunan dan pengembangan industri tersebut dapat dilakukan melalui tiga pendekatan.

Pertama, menciptakan pusat pertumbuhan wilayah berupa konsentrasi lokasi industri sebagai prime mover. Kemudian, meningkatkan kemampuan masyarakat di lokasi industri tersebut sehingga akan memberikan dampak positif bagi pembangunan industri yang semakin efisien dan efektif serta memberikan manfaat berganda bagi daerah setempat.

Kedua, meningkatkan investasi  di sektor industri dan infrastruktur penunjang kawasan industri yang dapat dilakukan oleh pihak swasta dan pemerintah. Pengembangan infrastruktur ini tidak hanya bermanfaat bagi kegiatan industri akan tetapi juga berpengaruh pada meningkatnya perekonomian wilayah sebagai akibat dari terbukanya akses terhadap wilayah tersebut.

Ketiga, pendekatan  yang digunakan dalam mempercepat pembangunan industri di daerah yang tidak memiliki pusat pertumbuhan industri diwujudkan dengan mengembangkan kompetensi inti industri di kabupaten/kota.

Bagaimana konsep kompetensi inti industri daerah itu?

Konsep Kompetensi Inti Industri Daerah ditemukan melalui 2 pendekatan yaitu pendekatan teoritis dan pendekatan empiris yakni melalui pengalaman beberapa negara/provinsi dalam membangun industri di daerah.

Hamel dan Prahalad (1994) mendefinisikan kompetensi inti sebagai berikut: Pertama, kompetensi inti adalah suatu kumpulan kemampuan yang terintegrasi dari serangkaian sumberdaya dan perangkat pendukungnya sebagai hasil dari proses akumulasi pembelajaran.

Kedua, merupakan hasil dari pembelajaran kolektif khususnya mengenai bagaimana mengkoordinasikan kemampuan produksi yang bermacam-macam dan mengintegrasikannya dengan arus teknologi yang berkembang.

Ketiga, merupakan hasil dari penyelarasan arus teknologi, tentang kerja organisasi dan penghantaran nilai kepada pelanggan. Keunggulan pemberian nilai tambah kepada pelanggan akan memberikan peningkatan pada kemampuan bersaing daerah.

Keempat, dibangun dari hasil komunikasi, keterlibatan, dan komitmen yang mendalam terhadap kerja lintas batas organisasi di suatu daerah. Masing-masing organisasi dan institusi daerah harus terintegrasi satu sama lain dan secara bersama-sama dalam mengembangkan potensi daerah.

Sedangkan pendekatan empiris dapat dipelajari dari Oita, Jepang. Pada tahun 1979 Hiramatsu, Gubernur Oita mengimplementasikan OVOP (One Village One Product), atau Satu Desa Satu Produk. Pendekatan  ini dikembangkan untuk membangun daya saing suatu desa atau wilayah tertentu. Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa daya saing suatu daerah akan dapat dibangun jika desa yang bersangkutan memfokuskan kegiatan masyarakat di sana untuk menghasilkan satu produk yang dipandang merupakan produk unggulan desa tersebut.

Konsep OVOP dengan cepat diadaptasi masyarakat karena dipandang sesuai dengan aspirasi masyarakat setempat yang tentu saja sudah akrab dengan produk tertentu yang menjadi unggulan daerah mereka. Konsep OVOP  kemudian juga diadaptasi di beberapa negara di dunia, seperti Tanzania dan Thailand. Di Thailand konsep ini dinamai OTOP (One Tamboon One Product).

Implementasi konsep OVOP diharapkan dapat menghindarkan terjadinya persaingan tidak sehat di antara desa-desa bertetangga karena setiap desa dapat mengembangkan produk unggulan yang saling berbeda, dan karenanya dapat mengisi pasar yang sama tanpa harus bersaing secara langsung. Dengan demikian kejenuhan pasar akibat membanjirnya produk yang sama di pasar juga dapat dicegah.


Martani Huseini dalam pidato pengukuhan guru besarnya di Universitas Indonesia pada tahun 1999 memperkenalkan model Sakasakti (Satu Kabupaten Satu Kompetensi Inti) untuk membangun daya saing daerah yang dapat dikatakan memanfaatkan konsep kompetensi inti dari Hamel dan Prahalad tentang sumber-sumber daya saing organisasi, serta dari Sveiby tentang daya saing berbasis sumber daya.

Jika konsep OVOP bertitik-tolak pada identifikasi dan pengembangan produk unggulan, model Sakasakti lebih difokuskan pada identifikasi kompetensi khas yang dimiliki suatu daerah yang diyakini menjadi sumber terciptanya suatu produk unggulan. Artinya, model Sakasakti difokuskan pada usaha menggali dan mengidentifikasi kompetensi yang dimiliki suatu daerah dengan mempertimbangkan kekayaan sumber daya yang ada pada daerah tersebut.

Sesuai dengan pendapat Hitt, Huseini juga tidak membatasi pengertian sumber daya hanya pada sumber daya alam semata, melainkan juga mencakup sumber-sumber daya lain, termasuk kreativitas dan daya inovasi manusia.

Strategi pengembangan industri harus berdasarkan keunggulan komperatif yang berdasarkan pada sumber daya yang dimiliki daerah dan memiliki potensi pasar yang luas. Argumentasinya adalah bahwa industrialisasi akan berjalan apabila disandarkan pada keunggulan di daerah bersangkutan. industrialisasi harusnya berpijak pada sektor tersebut. Jika tidak demikian, industrialisasi akan mendapat hambatan dan menimbulkan masalah ketimpangan pendapatan dan pengangguran. Kompetensi Inti dapat dipahami sebagai kumpulan pengetahuan, ketrampilan, teknologi, aset dan kemampuan mengkoordinasikan sumber daya yang merupakan sumber keunggulan bersaing daerah.

Kementerian Perindustrian sangat concern dengan mendorong setiap daerah mengimplementasikan KIID ini. Tujuannya selain untuk meningkatkan daya saing daerah berlandaskan keunggulan yang dimiliki, juga  untuk memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki daerah secara optimal.  Disamping itu, KIID juga bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah sepanjang rantai nilai bagi komoditi unggulan daerah,  sehingga pada akhirnya akan bermuara pada tumbuhnya industri di daerah yang mampu menciptakan lapangan kerja yang besar dan terwujudnya kesejahteraan masyarakat lokal.

Ada beberapa langkah strategis untuk membangun daya saing industri di daerah berbasis pengembangkan kompetensi inti industri daerah. Pertama, meningkatkan nilai tambah sepanjang rantai nilai untuk komoditas unggulan daerah dengan cara mengimplementasikan manajemen rantai pasok. Kedua, merancang rekayasa kelembagaan dalam menunjang kompetensi inti daerah. Ketiga, membangun jejaring dengan seluruh pemangku kepentingan. Keempat, memperkuat dan mengembangkan industri kecil dan menengah secara terpadu. 

Dibaca : 1093 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER