Iklan Investor Pialang
Kamis, 21 Juni 2018 | 21:12 WIB

Proyek Tenaga Air Daya Tarik Pembangunan Ekonomi

Kamis, 02 Mei 2013 / liputan khusus / antara

OTDANEWS.COM, London - Proyek Hydropower (tenaga air) di Indonesia secara politik dan ekonomi berdampak positif terhadap pembangunan di wilayah Indonesia bagian timur.

Hal itu disampaikan Wakil Dubes KBRI Berlin Siswo Pramono pada peringatan Sarasehan ke-50 yang diselenggaran di Rumah Budaya KBRI Berlin, Selasa, demikian Staf Pensosbut KBRI Berlin, Juviano Riberio, kepada ANTARA London, Rabu.

Sarasehan ke-50 menampilkan Siswo Pramono, sebagai pembicara tunggal dengan topik "The Geopolitics of Hydropower in Indonesia`s Context" yang dihadiri sekitar 100 undangan dari berbagai kalangan seperti Friedrich-Ebert-Stiftung, akademisi, pelajar dan mahasiswa , Friends of Indonesia.

Sementara itu, Dubes RI untuk Republik Federal Jerman Eddy Pratomo menilai, forum Sarasehan sebagai salah satu instrumen diplomasi "people-to-people" dapat mengimplementasikan kemitraan komprehensif sesuai Deklarasi Jakarta yang ditandatangani di Jakarta pada bulan Juli 2012.

Dubes Eddy berpendapat, sikap saling pengertian dan keinginan mempelajari satu sama lain dari kedua bangsa dapat mempertahankan jalinan persahabatan secara berkesinambungan dan lebih kokoh.

Sementara itu, Siswo Pramono dalam paparannya menjelaskan tentang peta geopolitik dari tenaga air dalam konteks perkembangan Indonesia dan dinamika geopolitik di Asia Timur. Hal yang menjaid pembicaraan antara lain tentang bagaimana Indonesia mempersiapkan diri dalam transisi menuju ke masyarakat industri.

Mengantisipasi meningkatnya industrialisasi yang akan berdampak terhadap meningkatnya kebutuhan energy dan konsekuensinya terhadap rasa ketidak pastian atas pasokan yang mencukupi.

Dalam konteks itulah Siswo Pramono menekankan posisi Indonesia yang menduduki peringkat ke-15 dari perekonomian dunia berusaha mengurangi perbedaan sosial ekonomi antara provinsi di Indonesia dan bagaimana mengatasi perbedaan tersebut dengan mengunakan kebijakan ekonomi terencana, misalnya dengan strategi Master Plan untuk Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Siswo Pramono menjelaskan, proyek pembangkit listrik tenaga air dan investasi infrastruktur lainya dapat dirancang untuk mengembangkan "Energy-Mix" dan juga ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di provinsi Indonesia bagian timur khususnya di Papua.

"Sekarang tinggal bagaimana negara mengelola dan memanfaatkanya sebagai daya tarik untuk pembangunan ekonomi. Proyek-Proyek tenaga air di Papua apabila berhasil dibangun maka bisa memenuhi kebutuhan listrik untuk jangka waktu 50 tahun ke depan," ujarnya.

Potensi hydropower di Papua sangat besar dan cukup menjanjikan, misalnya pemanfaatan Sungai Mamberamo sampai ke Danau Sentani. Sebagai contoh, proyek hydropower di sungai Mamberano, yang merupakan sungai terbesar di Indonesia dengan panjang 670 km, terletak di sebelah selatan pegunungan Foja, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua.

Di Papua terdapat sekitar 52 sungai dengan potensi maksimal sebesar 22.131,6 MW (Megawatt) atau energi sebesar 135.036,8 GWH.

Sungai Mamberamo secara administratif melewati tiga kawasan kecamatan, yakni Mamberamo Hulu, Tengah, dan Hilir. Di bagian hulunya terdapat dua sungai utama yaitu Sungai Tariku dan Sungai Taritu yang bergabung menjadi Sungai Mamberamo dan kemudian secara spektakuler mengalir ke utara memotong Pegunungan Foja, hingga mencapai pantai utara Papua.

Pada sisi bagian timur ke arah hilir, terdapat danau yang sangat luas yaitu Danau Rombebai yang berukuran sedikit lebih kecil dari Danau Paniai atau Danau Sentani yang merupakan danau-danau besar di Papua.

Meskipun demikian, pembangunan proyek Hidropower di Mamberamo dinilai harus tetap dikelola secara hati-hati dan perlunya sosialisasi kepada masyarakat setempat untuk menjaga alam dan lingkungannya.

Dalam hal ini pemerintah harus tegas untuk mengawasi lingkungan sekitar Sungai Mamberamo agar tetap terjaga dan tidak terusik dengan aktifitas penebangan yang akan menghancurkan potensi alam di sana.

Siswo Pramono yakin proyek hydropower ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena ada korelasi yang salaing membutuhkan. Dimana kebutuhan masyarakat akan listrik terpenuhi, dan untuk memenuhi kebutuhan listrik diperlukan air/sungai. Untuk mendapatkan air, perlindungan hutan adalah hal yang mutlak harus dijaga secara bersama.

Pada akhir paparannya, Dr. Siswo Pramono, sebelumnya mengadakan penelitian mengenai hydropower yang di Papua, menegaskan meskipun proyek hydropower adalah proyek padat modal, memiliki nilai investasi awal yang besar dan memakan waktu lama, namun memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Para undangan yang hadir dalam Sarasehan ke-50 ini juga dihibur dengan musik Talempong, tari Pasambahan pada acara pembukaan, dan ditutup dengan tari Piring persembahan dari Kelompok Tari Puspa Kencana KBRI Berlin.

Dibaca : 643 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER