Iklan Investor Pialang
Kamis, 21 Juni 2018 | 01:52 WIB

10 Prajurit Chad Tewas di Mali Utara

Senin, 25 Februari 2013 / mancanegara / antara

OTDANEWS.COM, N'Djamena - Sepuluh prajurit Chad tewas dalam operasi memerangi gerilyawan garis keras di daerah pegunungan Mali utara yang berbatasan dengan Aljazair, kata militer Chad, Minggu.

Pasukan Chad melakukan operasi itu di daerah pegunungan Adrar des Ifoghas dimana 13 prajurit Chad dan 65 gerilyawan terkait Al Qaida tewas dalam bentrokan pada Jumat.

"Selama operasi pembersihan, mayat 28 teroris lain ditemukan... Sepuluh lagi prajurit kami tewas," kata staf umum angkatan darat dalam sebuah pernyataan di radio pemerintah.

"Jumlah terakhir korban tewas akibat bentrokan-bentrokan... dan operasi pembersihan yang dilakukan kemudian adalah: 93 teroris... di pihak musuh. Kami menyesalkan kematian 23 prajurit dan 30 orang yang cedera," kata pernyataan itu.

Ribuan prajurit internasional yang dipelopori Prancis saat ini berada di Mali untuk memerangi kelompok-kelompok garis keras yang selama beberapa bulan menguasai wilayah utara negara itu.

Prancis, yang bekerja sama dengan militer Mali, pada 11 Januari meluncurkan operasi ketika militan mengancam maju ke ibu kota Mali, Bamako, setelah keraguan berbulan-bulan mengenai pasukan intervensi Afrika untuk membantu mengusir kelompok garis keras dari wilayah utara.

Mali, yang pernah menjadi salah satu negara demokrasi yang stabil di Afrika, mengalami ketidakpastian setelah kudeta militer pada Maret 2012 menggulingkan pemerintah Presiden Amadou Toumani Toure.

Masyarakat internasional khawatir negara itu akan menjadi sarang baru teroris dan mereka mendukung upaya Afrika untuk campur tangan secara militer.

PBB telah menyetujui penempatan pasukan intervensi Afrika berkekuatan sekitar 3.300 prajurit di bawah pengawasan kelompok negara Afrika Barat ECOWAS. Dengan keterlibatan Chad, yang telah menjanjikan 2.000 prajurit, berarti jumlah pasukan intervensi itu akan jauh lebih besar.

Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis, sejak April tahun lalu.

Pemberontak suku pada pertengahan Januari 2012 meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya. Namun, perjuangan mereka kemudian dibajak oleh kelompok-kelompok muslim garis keras.

Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara, namun hal itu malah menjadi bumerang dan pemberontak menguasai tiga kota utama di Mali utara dalam waktu tiga hari saja.

Dibaca : 373 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER