Iklan Investor Pialang
Minggu, 25 Februari 2018 | 09:15 WIB

Mengapa Bursa dan Rupiah Seringkali Terguncang Keras

Kamis, 22 Agustus 2013 / pasar modal / antara

OTDANEWS.COM, Jakarta - Sepekan setelah libur panjang lebaran, harga saham dan mata uang rupiah terus tertekan bahkan anjlok akibat guncangan eksternal berupa ketidakpastian kapan Bank Sentral AS (The Fed) akan mengurangi bahkan mengakhiri kebijakan stimulusnya.

Data yang dihimpun dari 12 Agustus 2013 atau sejak perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka kembali, indeks harga saham gabungan (IHSG) berada pada posisi 4.597,78 dan Rupiah bertengger di Rp10.285 per dolar AS.

Namun pada posisi akhir sesi I perdagangan Kamis (22/8), IHSG merosot ke posisi 4.122,37 atau anjlok sebesar 475,41 poin hanya dalam waktu delapan hari kerja.

Sementara nilai tukar rupiah lebih parah lagi merosotnya. Jika pada 12 Agustus 2013 posisinya masih di Rp10.285 per dolar AS, kini bertengger pada level Rp11.000 per dolar AS atau anjlok 715 poin.

Sebenarnya hampir semua negara juga terkena imbas guncangan atau ketidakpastian global tersebut, namun mengapa Indonesia terkena dampak yang lebih keras. Ada tiga negara yang merasakan guncangan hebat tersebut yaitu Indonesia, India dan Turki.

Analoginya mengapa "pusat gempa" yang ada nun jauh di Amerika sana namun dampaknya terasa hebat di Indonesia. Kejadian ini tidak hanya terjadi saat ini saja, namun sudah seringkali terjadi. Jika ada guncangan eksternal dampaknya terasa lebih keras di Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi? Kepala Riset Trust Securities, Riza Priyambada mengatakan pelemahan IHSG yang signifikan pada awal pekan ini terjadi karena kombinasi dua faktor yaitu pertama dari eksternal adanya kekhawatiran pasar terhadap pengurangan stimulus keuangan the Fed (Bank Sentral AS) dan pasar keuangan di negara berkembang yang mengalami sentimen sama.

Namun, kata dia, adanya data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) yang defisit menambah beban bagi pasar modal Indonesia, sehingga pelemahannya paling besar dibanding bursa Asia dan hal itu menjadi salah satu alasan investor asing menarik danannya.

Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi kekhawatiran para pelaku industri. Pelemahan rupiah disebabkan defisit NPI pada kuartal II 2013 sebesar 2,48 miliar dolar AS, turun dibandingkan defisit NPI di kuartal I 2013 yang mencapai 6,62 miliar dolar AS.

"Meski defisit turun, namun investor masih menilai negatif. Setelah diumumkan data itu, pasar saham dan rupiah anjlok. Kinerja NPI yang defisit itu membuat posisi cadangan devisa turun dari sebelumnya 98,1 miliar dolar AS menjadi 92,671 miliar dolar AS pada Juli 2013," kata dia.

Kepala Bidang Ekuitas dan Penelitian PT Bahana Securities Harry Su mengatakan jatuhnya IHSG dalam sepekan ini karena investor asing sedang keluar dari 'emerging market' termasuk Indonesia dan berpindah ke negara maju seperti AS dan Eropa.

"Negara-negara maju saat ini ekonominya sedang mengalami perbaikan jadi mereka keluar dulu," kata dia.

Menurut dia, dampak dari guncangan eksternal tersebut menyebabkan kinerja pasar saham Indonesia jauh lebih buruk bila dibandingkan dengan Thailand.

Bila dilihat dari price earning (PE), Indonesia juga jauh lebih tinggi dari Thailand yaitu 16,6 kali dibandingkan Thailand 12,9 kali, dalam arti harga saham di bursa Indonesia masih jauh lebih mahal dibandingkan harga saham di bursa Thailand.

"Tingginya PE membuat valuasi lebih mahal. Bagi investor, valuasi merupakan sesuatu yang penting, semakin tinggi valuasi, investor cenderung keluar dan melakukan aksi ambil untung," katanya.

Tapi menurut dia yang harus dikhawatirkan justru India. Perlambatan ekonomi di India sudah sangat besar, rupee India jatuh 16,3 persen terhadap dolar AS dan indeksnya meluncur ke zona merah sebesar 22,2 persen.

"Yang dikhawatirkan apakah Indonesia akan seperti India," kata dia.

Apa yang dijelaskan Kepala Ekuitas dan Penelitian PT Bahana Securities Harry Su memang ada benarnya bahwa keluarnya dana asing dari bursa Indonesia bisa menyebabkan guncangan yang lebih 'keras'. Hal ini bisa dijelaskan dari struktur dan karakteristik pasar modal Indonesia yang dicirikan dengan masih dominannya investor asing yang "bermain" di BEI daripada investor lokal.

Karena itu investor asing mempunyai peran penting mengendalikan pasar modal Indonesia, sementara investor lokal cenderung menjadi 'follower' atau pengekor, sehingga jika terjadi dana asing keluar, investor lokal gamang karena kehilangan induk semangnya.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juli 2013 menunjukkan aset saham investor lokal hanya sebesar Rp1.229,44 triliun masih jauh tertinggal dibanding aset saham investor asing Rp1.618,67 triliun.

Jadi secara persentase kepemilikan saham investor asing di BEI masih lebih besar yaitu 56,83 persen, sedangkan investor lokal hanya 43,17 persen.

Sebenarnya investor asing di bursa sudah mulai menjual saham-saham yang dimilikinya sejak April 2013. Kalau pada posisi April jumlah kepemilikannya masih sebesar Rp1.799,88 triliun maka pada Juli 2013 tinggal Rp1.618,67 triliun.

Investor asing terus melakukan aksi jual secara kumulatif setiap bulannya, namun ironisnya hal yang sama juga dilakukan investor lokal. Nilai aset atau kepemilikan investor lokal pada April 2013 di posisi Rp1.276,12 triliun, namun pada Juli 2013 hanya tersisa Rp1.229,44 triliun.

Jadi semakin jelas bahwa investor lokal Indonesia hanya menjadi follower atau "membebek" saja apa yang dilakukan investor asing. Jangan heran jika bursa Indonesia paling "bergetar" terkena dampak guncangan eksternal.

Investor asing melakukan aksi jual, investor Indonesia juga ikut-ikutan. Investor asing "kabur", investor Indonesia juga ikut kabur dan panik.

Akumulasi kepanikan dan kelemahan struktur kepemilikan dan sifat atau karakteristik investor lokal tersebut menyebabkan bursa Indonesia gampang sekali terkena dampak guncangan eksternal.

Sementara itu menanggapi anjloknya IHSG, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida mengatakan OJK telah mencermati dan melakukan pengawasan atas gejolak yang terjadi dan siap melakukan langkah pencegahan sesuai kebutuhan.

"Kami sudah punya Standar Operasi Prosedur (SOP) saat terjadi penurunan IHSG pada level tertentu. Di pasar modal juga ada program ke depan dan kami terus mengawasi berbagai tekanan," katanya.

Menurut dia, OJK juga akan melakukan langkah strategis untuk pendalaman pasar dengan menyiapkan berbagai alternatif produk jasa keuangan maupun industri keuangan nonbank yang bermanfaat sebagai sarana investasi.

"Antara lain menambah 'supply dan demand'. Akan makin banyak produk, banyak penawaran saham perdana, sehingga pilihan lebih banyak. Kemudian penambahan investor, baik individual maupun institusional," katanya.

Program dan langkah pemerintah (OJK) bukanlah hal yang baru terutama dalam meningkatkan jumlah dan kualitas investor lokal. Hal itu juga seringkali dikemukanan otoritas pasar modal Indonesia yang ketika itu masih bernama Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).

Namun sampai saat ini jumlah investor lokal individu maupun institusional tidak beranjak naik malah boleh dibilang 'stagnan', investor lokalnya hanya "itu-itu" saja.

Menambah 'demand' atau jumlah investor lokal disadari bukan perkara mudah, mungkin jauh lebih mudah menambah 'supply' atau menciptakan instrumen-instrumen investasi yang baru.

Saat ini yang paling mendesak adalah bagaimana menggerakan dana-dana dan menambah investor lokal serta merubah 'mindset' masyarakat (individu dan institusi) agar mau berinvestasi di pasar modal seperti layaknya mereka terbiasa menabung di bank.

Investor lokal mampu mengendalikan bursanya sendiri tampaknya baru sebatas mimpi. Berbagai pihak berwenang terutama OJK diharapkan mampu mewujudkan mimpi itu.

Dibaca : 1206 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER