Iklan Investor Pialang
Minggu, 25 Februari 2018 | 20:27 WIB

Minyak Turun di Asia Tertekan Kekhawatiran Pertumbuhan China

Selasa, 11 Juni 2013 / pasar modal / antara

OTDANEWS.COM, Singapura - Harga minyak turun di Asia pada Selasa, setelah data China yang suram mengangkat kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan di ekonomi terbesar kedua dunia itu.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, turun 11 sen menjadi 95,66 dolar AS per barel pada sore hari.

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli turun 29 sen menjadi 103,66 dolar AS.

"Banyak data mengecewakan yang telah keluar dari China selama akhir pekan, termasuk data impor dan ekspor," Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets di Sydney, mengatakan kepada AFP.

"Kami juga mendekati posisi teratas dari kisaran WTI. Setiap kenaikan harga kemungkinan akan dibatasi oleh penjualan teknikal." "Kami mengalami kesulitan setiap kali sampai ke tingkat 97-98 dolar AS," kata Yawger dari Mizuho Securities USA, mencatat bahwa pasar telah gagal terhadap tingkat itu sebanyak tiga kali sejak April.

"Orang-orang keluar dari posisi mereka karena mereka sebelumnya tidak berhasil melewati tingkat itu." China selama akhir pekan menerbitkan banyak indikator ekonomi yang mengecewakan, sehingga memicu kekhawatiran tentang melambatnya pertumbuhan di konsumen energi terbesar dunia itu.

Pada Sabtu (8/6), China melaporkan penurunan ekspor pada Mei dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dan penurunan tak terduga dalam impor.

Pengiriman ke luar negeri naik hanya satu persen menjadi 182,8 miliar dolar AS pada bulan lalu, jauh lebih rendah dari 14,7 persen yang tercatat pada April, kata otoritas bea cukai.

Pemerintah China sehari kemudian mengumumkan bahwa produksi industri tumbuh pada kecepatan yang sedikit lebih lambat pada Mei, sementara pertumbuhan investasi melemah.

Produksi industri, yang mengukur produksi pada pabrik-pabrik dan tambang-tambang negara itu, naik 9,2 persen tahun-ke-tahun pada Mei, sedikit lebih lemah dari peningkatan 9,3 persen pada April, Biro Statistik Nasional mengatakan.

Angka-angka datang di tengah meningkatnya kekhawatiran atas prospek ekonomi China, yang tumbuh 7,8 persen pada 2012, kinerja terburuk dalam 13 tahun terakhir.

Dana Moneter Internasional (IMF) pada bulan lalu memangkas proyeksi pertumbuhan 2013 untuk China menjadi sekitar 7,75 persen, dari perkiraan ekspansi sebelumnya sebesar 8,0 persen.

Pedagang juga mengamati perkembangan antara Sudan dan Sudan Selatan.

Pada Sabtu (8/6) Presiden Sudan Omar al-Bashir menutup pipa saluran yang membawa minyak mentah Sudan Selatan untuk ekspor, dan pada Minggu (9/6) Sudan menangguhkan sembilan perjanjian keamanan dan ekonomi dengan Sudan Selatan.

Sudan Selatan menghasilkan sekitar 350.000 barel minyak per hari tetapi tergantung pada infrastruktur ekspor Sudan.

Kedua belah pihak belum bisa menyepakati berapa banyak Juba (Sudan Selatan) akan membayar untuk penggunaan jaringan pipa saluran minyaknya.

Dibaca : 794 kali
SIGNUP FOR NEWSLETTER