Iklan Investor Pialang
Kamis, 21 Juni 2018 | 01:50 WIB

Dubes RI: Pasar Timteng Perlu Digarap Serius

Jumat, 05 Oktober 2012 / / antara

Jumlah pengusaha dari UAE yang menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) dari tahun ke tahun terus meningkat dan ini menunjukkan bahwa pasar Timur Tengah merupakan salah satu pasar non-tradisional yang perlu digarap secara serius, kata Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab Salman Al Farisi di Dubai, Kamis.

"Tentunya pengusaha Indonesia termotivasi untuk terus aktif mencari peluang-peluang memasarkan produk-produk mereka," kata Dubes Salman.

Lebih 60 pengusaha dari Uni Emirat Arab (UAE) berniat menghadiri TEI ke-27 pada 17-21 Oktober 2012 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.

"Kami perkirakan jumlah mereka akan bertambah karena banyak pengusaha di sini telah beberapa kali menghadiri TEI, memiliki mitra-mitra di Indonesia dan datang sendiri tanpa memberitahu ke KBRI," kata Dubes Salman yang disertai Sekretaris I Wisnu Sindhutrisno.

Diharapkan transaksi yang dibukukan oleh pengusaha UAE yang hadir sampai dengan penutupan TEI 2012 jauh lebih besar dari yang berhasil dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

"Namun tidak semua transaksi tercatat di TEI mengingat sebagian besar pembeli melakukan transaksi di luar expo karena tidak tersedianya produk yang dicari di arena expo." Berdasarkan informasi dan data KBRI di Abu Dhabi terkait TEI yang diperoleh ANTARA, Menteri Perdagangan Luar Negeri UAE Sheikha Lubna binti Khalid Al Qasimi menugaskan Wakil Menteri Perdagangan Luar Negeri Abdullah Ahmed Al Saleh untuk memimpin misi bisnis ke TEI 2011 di Jakarta.

Hal Ini mencerminkan keyakinan kuat bahwa kunjungan delegasi UAE bersama dengan delegasi Dubai Islamic Financial Services, memberikan kesempatan baik untuk meningkatkan hubungan ekonomi ke dua negara, mengingat TEI 2011 berhasil menarik lebih dari 8.311 pembeli dari 102 negara, termasuk 180 pembeli dari UAE dengan total transaksi senilai 464.5 juta dolar AS.

Dubes Salman berada di Dubai mendampingi Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M. Chatib Basri yang agendanya antara lain menjadi pembicara dalam the Asia Bussiness Leadership Forum dan bertemu dengan sejumlah pimpinan perusahaan papan atas di UAE.

Peluang investasi UAE merupakan ekonomi terbesar kedua di Kerja sama Negara Teluk (GCC) setelah Arab Saudi dan pengimpor terbesar di Timur Tengah. Sebanyak 70 persen impor ke UAE diekspor kembali ke negara-negara lain di Timur Tengah, termasuk ke negara-negara yang saat ini tengah dilanda krisis politik dan mengalami kekurangan pasokan, serta ke Asia Selatan, Afrika dan Eropa.

"Kami mencatat bahwa peluang investasi dari UAE selama ini masih sangat sedikit yang mengalir ke Indonesia, sementara di kawasan ASEAN lebih banyak dimanfaatkan oleh Malaysia dan Vietnam," kata Salman.

Investasi UAE di Indonesia telah meningkat sangat pesat dibanding 2008, di mana komitmen investasi negara Teluk itu di Indonesia telah mencapai 11 juta dolar AS, namun masih relatif lebih kecil dibanding investasi UAE di Malaysia, Thailand dan Singapura, bahkan Vietnam.

Hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dan UAE saat ini mulai menunjukkan peningkatan. Walaupun menghadapi masa sulit, total perdagangan pada 2011 meningkat signifikan yakni 27.7 persen mencapai 2,5 milar dolar pada 2011 dan hampir 1,4 miliar dolar hingga Mei 2012.

Selama tiga tahun terakhir, komitmen investasi dari UAE mencapai lebih dari 11 juta dolar, mulai dari pelabuhan, pertambangan, real estat hingga industri perhotelan. Jika melihat data 2011, investasi senilai 6,83 juta dolar telah terealisasi.

Namun, investasi UAE meningkat dua kali lipat dan meroket hingga hampir 15 juta dolar pada semester pertama 2012. Peningkatan kunjungan antarpejabat tinggi, komunitas bisnis serta wisatawan dari kedua belah pihak juga cukup menggembirakan, walaupun belum mencerminkan potensi besar yang dimiliki kedua negara.

Bagian Ekonomi KBRI mencatat paling tidak terdapat dua hambatan, pertama kurangnya informasi tentang potensi investasi di Indonesia dan kedua belum kondusifnya birokrasi di daerah dalam menangkap investasi dari UAE.

Hal ini terlihat dengan berlarut-larutnya izin prinsip investasi seperti yang dialami Dubai Drydock World (DDW)/ Fabtech International, Emaar Group di Lombok dan Terminal Petikemas Surabaya.

"Karena itu, sasaran utama yang perlu diupayakan adalah meningkatnya hubungan perdagangan terutama ekspor Indonesia ke UAE, investasi dan pariwisata," Salman.

Ia juga mengatakan sebagai negara termakmur ke-4 di dunia dengan tingkat daya beli yang tinggi, peluang ekspor produk Indonesia di pasar UAE masih sangat terbuka.

UAE juga dapat dijadikan pusat produk Indonesia untuk penetrasi ke pasar Afrika, Asia Selatan dan Eropa Timur mengingat sebagian produk impor UAE diekspor kembali ke kawasan itu.

Dalam kaitan ini, pameran internasional di UAE memiliki peluang yang besar dan dapat dijadikan arena promosi produk-produk Indonesia, bukan saja untuk pasar setempat melainkan juga pasar internasional.

"Untuk itu, para pengusaha nasional diharapkan dapat memanfaatkan pameran tersebut dengan mengikuti jadwal-jadwal yang umumnya telah ditetapkan dalam masa satu tahun," katanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah melakukan kunjungan kenegaraan ke UAE pada 2006. Dia menginstruksikan diplomasi ekonomi Indonesia diarahkan untuk mendekat kepada negara-negara di kawasan Timteng terutama GCC, dan mengambil manfaat ekonomi dari kedekatan tersebut dijabarkan dalam bentuk program kegiatan tetap dari semua kementerian terkait di Indonesia yang bersinergi dengan kegiatan di perwakilan.

KBRI Abu Dhabi telah berupaya menggiatkan pendekatan kepada kementerian terkait untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan promosi di UAE seperti partisipasi Indonesia dalam Dubai Global Village (DGV), pameran-pameran internasional yang ada di Dubai dan Abu Dhabi seperti Big 5, INDEX dan Halal Food Expo.

"Masih banyak ruang untuk kedua negara mengembangkan kerja sama yang lebih luas," kata Dubes Salman

Dibaca : 243 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER