Iklan Investor Pialang
Jumat, 20 April 2018 | 00:25 WIB

Vitalitas Bahasa Sebagai Tolok Ukur Pemertahanan

Jumat, 14 Desember 2012 / nasional / antara

OTDANEWS.COM, Jakarta - Pakar linguistik Universitas Indonesia, Prof Multamia RMT Lauder, mengatakan vitalitas bahasa sebagai tolok ukur pemertahanan suatu bahasa dengan menggunakan sembilan faktor.

"Tim Ad Hoc Unesco bekerja bersama dan menghasilkan dokumen yang berjudul "Vitalitas Bahasa dan Keterancamannya pada 2003. Di situ ada sembilan faktor vitalitas bahasa," kata Multamia RMT Lauder saat ditemui di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, Kesembilan faktor itu yang pertama, transmisi bahasa antargenerasi. Tranmisi bahasa ibu ke anak yang berjalan lancar hanya 30 persen sedangkan sisanya terkendala. Misalnya seorang ibu berbicara atau menyampaikan kosakata Sunda ke anaknya.

Ia mengatakan jika bahasa tidak lagi ditransmisikan ke anak serta cucunya secara meluas di masyarakat, maka sudah ada indikasi kesehatan yang berada pada ambang kritis.

Itu, lanjutnya, pertanda adanya kehilangan bahasa atau alih bahasa yang serius.

"Kedua, jumlah penutur secara keseluruhan. Ketiga yaitu proporsi penutur dalam keseluruhan jumlah populasi. Keempat, kecenderungan penggunaan dalam ranah bahasa yang ada," kata dia.

Ia mengatakan jumlah penutur bahasa sebanyak 1000 masih mungkin dipertahankan. Kalau kurang dari angka 1000 masuk golongan bahasa yang terancam punah.

Faktor kelima, lanjut dia, yaitu respons terhadap ranah dan media baru. Keenam, adanya berbagai bahan untuk pendidikan bahasa dan keberaksaraan.Ketujuh, kebijakan bahasa institusional dan pemerintah termasuk status serta penggunaan resmi.

Faktor kelima-ketujuh mengidentifikasi bagaimana dan di mana bahasa digunakan.

"Apakah bahasa etnik masih di pakai di pasar, sekolah, rumah, dan lain-lain serta media seperti Tv daerah, radio maupun surat kabar. Ranah pendidikan melihatkan bahwa bahasa Indonesia wajib dituturkan dan dipelajari oleh siswa sehingga menjadi dominan," ujar dia.

Sedangkan faktor kedelapan, sikap komunitas terhadap bahasanya sendiri, dan terakhir jumlah serta kualitas dokumentasi bahasa.

"Sikap terhadap bahasa terekpresikan dalam frekuensi penggunaan dan penguasaan bahasa bersangkutan," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Turmudi mengatakan perlu upaya komprehensif untuk mempertahankan bahasa etnik minoritas yang terancam punah sehingga berkontribusi bagi ilmu pengetahuan di bidang kebahasaan.

"Pada 2012 telah melaksanakan penelitian kebahasaan dan kebudayaan yang bertema ekologi serta pemertahanan bahasa minoritas yang hampir punah di kawasan Indonesia Timur. Ada banyak bahasa etnik minoritas yang terancam di kawasan tersebut," kata Endang Turmudi dalam sambutan diskusi "Pengembangan dan Perlindungan Kekayaan Budaya" di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, secara umum, ada sejumlah anjuran untuk ketahanan bahasa yang terancam punah, antara lain setiap orang tua terbiasa menggunakan bahasa daerah di rumahnya.

"Selain itu, Kemendikbud harus mulai mewajibkan setiap murid menguasai setidaknya satu bahasa daerah dan terus menggelar berbagai festival seni di daerah," kata dia. (ANTARA)

Dibaca : 1079 kali
SIGNUP FOR NEWSLETTER