Iklan Investor Pialang
Rabu, 24 Januari 2018 | 14:08 WIB

Kelompok Wanita Tani Melati Kembangkan Kopi Luwak

Rabu, 06 Maret 2013 / potensi daerah / antara

OTDANEWS.COM, Bandarlampung - Kelompok Wanita Tani Melati di Tribudisyukur, Kabupaten Lampung Barat, mengembangkan sejumlah komoditas unggulan, seperti kopi luwak untuk menambah pendapatan keluarga dan mendukung konservasi hutan di daerah itu.

Regional Fasilitator Program Penguatan Pengelolaan Hutan dan DAS Berbasis Masyarakat (Strengthening Community Based Forest and Watershed Management/SCBFWM, Dr Ir Zainal Abidin MES, di Bandarlampung, Rabu, menyebutkan bahwa Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati itu pernah mendapatkan hibah kecil dari Program SCBFWM pada tahun 2010 dan 2011.

Jenis usaha yang dikelola kelompok wanita di Kecamatan Kebun Tebu itu, antara lain pembuatan kopi luwak sebanyak 3-4 kg per minggu yang sudah berupa kemasan, kopi bubuk biasa 70 kg/minggu, dan gula aren cetak 70 kg/minggu, gula kristal aren 5 kg/bulan, keripik pisang 5 kg/minggu, keripik singkong 10 kg/minggu, madu alam 2 botol/minggu, dan jasa penggilingan kopi 350 kg/minggu.

Kelompok itu juga mengembangkan arisan kerja dengan omzet Rp20 juta hingga Rp30 juta per tahun, warung dengan omzet Rp900.000 per bulan, dan pembibitan bernilai Rp1,5 juta per tahun.

Fasilitator lokal setempat, Gandi, Jamaludin, Novisha, dan A Saputra menyebutkan pula bahwa kelompok itu juga aktif dalam kegiatan konservasi yang dilakukan oleh kelompok hutan kemasyarakatan (HKm) Bina Wana, berupa penanaman tanaman konservasi/pelindung (MPTS), pembentukan kebun bibit maupun pelatihan yang diperlukan.

Kelompok itu menjadi wadah berkomunikasi dan meningkatkan keterampilan untuk menunjang kesejahteraan keluarga, meningkatkan pendapatan keluarga anggotanya dan mendorong usaha anggota serta membentuk lembaga ekonomi yang mempunyai permodalan yang kuat.

Menurut Zainal Abidin, Program SCBFWM merupakan program Kementerian Kehutanan yang difasilitasi oleh UNDP (United Nations Development Programme) dan Global Environmental Facilities (GEF) dimulai tahun 2009 dan akan berakhir tahun 2014.

Program tersebut di Indonesia terdapat pada enam wilayah, yaitu Daerah Aliran Sungai (DAS) Gopgopan di Sumatera Utara, DAS Way Besai di Lampung, Sub-DAS Tulis di Jawa Tengah-Yogyakarta, DAS Jangkok di NTB, Sub-DAS Besiam di NTT, dan Sub-DAS Miu di Palu Sulawesi Tengah.

Dia mengemukakan bahwa program itu didorong atas keprihatinan semakin rusak kondisi DAS serta hutan di Indonesia yang kian memburuk setiap tahun.

"Tanpa intervensi yang tepat dan berbasiskan masyarakat, maka kecenderungan kerusakan hutan dan DAS itu akan makin tinggi," kata dia pula.

Karena itu, ujar dia, program tersebut memberikan kontribusi terhadap pengurangan degradasi lahan dan hutan di Indonesia, dengan menitikberatkan pada kekuatan inisiatif masyarakat dalam pengelolaan hutan dan DAS secara berkelanjutan.

"Kekuatan inisiatif masyarakat lebih memberikan penguatan kapasitas kelompok dalam memenuhi kebutuhan kelompok untuk kesejahteraan maupun tujuan bagi perlindungan dan perbaikan lahan secarra berkelanjutan," ujar Zainal pula.

Di Lampung lokasi program itu berada di Sub-DAS Besai Kabupaten Lampung Barat seluas 97.672 ha merupakan bagian dari 938.829, 45 ha DAS Tulangbawang.

Wilayah tangkapan air Way Besai mempunyai luas 44.720 ha, dan Sub-DAS ini berada di wilayah paling hulu dari DAS Tulangbawang.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perkebunan Lampung Ir Sutono MM menegaskan bahwa pihaknya terus meningkatkan produksi dan produktivitas tujuh komoditas unggulan perkebunan di Lampung, yaitu kopi, kelapa sawit, kelapa dalam, tebu, karet, lada, dan kakao.

Komoditas spesial atau khusus juga dikembangkan untuk memenuhi permintaan yang tinggi di pasaran internasional, seperti komoditas kopi luwak maupun kopi bubuk bercita rasa khas asal Lampung lainnya, mengingat Lampung merupakan daerah penghasil kopi dan tebu yang menghasilkan gula untuk memasok kebutuhan gula nasional maupun lokal.

Dibaca : 592 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER