Iklan Investor Pialang
Selasa, 23 Januari 2018 | 09:32 WIB

264 Warga Bangkalan Terserang DBD Pada 2012

Jumat, 04 Januari 2013 / lintas daerah / antara

OTDANEWS.COM, Bangkalan - Sebanyak 264 warga Bangkalan, Madura, Jawa Timur, terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada 2012.

"Data warga Bangkalan yang menderita DBD ini tercatat mulai Januari hingga Desember 2012," kata Kepala Dinas Kesehatan Bangkalan, Achmad Aziz, Jumat.

Ia menjelaskan, dari jumlah tersebut, penderita terbanyak adalah balita yang mencapai hampir 70 persen dan sisanya remaja dan orang dewasa.

Menurut Aziz, jenis penyakit ini banyak menyerang warga sejak memasuki musim hujan, Desember 2012. "Jumlah pasien penderita DBD di Rumah Sakit Daerah (RSD) Bangkalan cenderung meningkat," katanya.

"Pada November dan Desember 2012 itu kan sudah memasuki musim hujan. Nah, menurut data kami, pada bulan itu jumlah pasien sudah mengalami peningkatan," katanya.

Ia menjelaskan, pasien penderita DBD di Kabupaten Bangkalan sepanjang 2012 itu hampir dari berbagai wilayah kecamatan. Seperti Kecamatan Socah, Tanjung Bumi, Tanah Merah, Klampis, Burneh dan Kecamatan Sepuluh.

"Pernah suatu hari pihak rumah sakit daerah Bangkalan merawat hingga 30 orang pasien penderita DBD," katanya.

Akan tetapi, menurut Aziz, dari semua pasien yang dirujuk ke rumah sakit di Bangkalan itu, semua masih tertolong, karena kondisinya masih belum terlalu parah.

Sementara itu, Kepala Dinkes Bangkalan Achmad Aziz menjelaskan, demam berdarah ini merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus.

Terdapat empat jenis virus dengue berbeda, namun berelasi dekat, yang dapat menyebabkan demam berdarah. Virus ini merupakan virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae.

Ia mengatakan bahwa penyakit demam berdarah ditemukan di daerah tropis dan subtropis di berbagai belahan dunia, terutama di musim hujan yang lembap.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya terdapat 50-100 juta kasus infeksi virus dengue di seluruh dunia.

"Termasuk di Indonesia ini adalah bagian 100-an kasus itu," katanya.

Ia menjelaskan, hingga kini, belum ada vaksin atau obat antivirus bagi penyakit tersebut, sehingga tindakan paling efektif untuk menekan epidemi demam berdarah dengan mengontrol keberadaan dan sedapat mungkin menghindari vektor nyamuk pembawa virus dengue.

Oleh karenanya, Dinkes Bangkalan meminta masyarakat agar sebaiknya melakukan pengendalian, seperti lingkungan, secara biologis dan pengasapan.

"Pencegahan dapat dilakukan dengan mengendalikan vektor nyamuk, antara lain dengan menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu," katanya menjelaskan.

Selain itu, bisa juga dilakukan dengan cara mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan air, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah.

Pada pengendalian secara biologis, menurut Aziz, bisa dilakukan dengan menggunakan ikan pemakan jentik dan bakteri.

Sementara, pada cara ketiga adalah dengan melakukan pengasapan (fogging). Cara ini dapat membunuh nyamuk dewasa, dan memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air untuk membunuh jentik-jentik nyamuk.

"Kalau di Bangkalan, pengasapan telah dilakukan dengan sasaran tempat-tempat yang memang menjadi sarang nyamuk dan daerah yang masyarakat banyak terserang DBD," katanya. (ANTARA)

Dibaca : 461 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER