Iklan Investor Pialang
Rabu, 24 Januari 2018 | 10:48 WIB

Masyarakat Tapsel Miliki Adat “ Dalihan Natolu” Tiga Tumpuan

" Masyarakat Tapanuli Selatan adalah masyarakat yang memegang teguh adat istiadatnya. Adat masyarakat Tapanuli Selatan lazim disebut adat Dalihan Natolu, karena setiap pelaksanaan aktivitas yang didasarkan kepada kaidah-kaidah adat, seperti pelaksanaan berbagai upacara, harus didukung oleh tiga unsur fungsional yang dinamakan Dalihan Natolu (tiga tumpuan). "

Rabu, 19 September 2012 / seni & budaya / sul

Seni dan budaya, merupakan jati diri bangsa. Di setiap daerah mempunyai ciri khas kesenian dan kebudayaannya, misalnya acara perkawinan, selalu diikuti dengan adat istiadat di daerahnya. Pelaksanaan  acara perkawinan  menjadi penting dan memiliki makna. Sebagai contoh,  acara perkawinan. Perkawinan ini merupakan rencana untuk meneruskan keturunan yaitu untuk menjaga kesinambungan satu keluarga. Dalam pelaksanaan acara sebuah perkawinan, diperlukan tata cara tertentu yang  mengatur individu-individu yang bersangkutan. Sistem, nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan yang mengatur masyarakat sehubungan dengan perkawinan.

Masyarakat Tapanuli Selatan memegang teguh adat istiadatnya, yang  lazim disebut adat Dalihan Natolu, karena setiap pelaksanaan aktivitas yang didasarkan kepada kaidah-kaidah adat, seperti pelaksanaan berbagai upacara, harus didukung oleh tiga unsur fungsional yang dinamakan Dalihan Natolu  (tiga tumpuan).

Sekarang ini. Ketiga unsur fungsional dari sistem sosial  Dalihan Natolu itu masing-masing disebut  Mora, Kahanggi  dan  Anak Boru. Mora  merupakan anggota kerabat yang berstatus sebagai pemberi anak dara dalam perkawinan (kelompok calon pengantin perempuan).  Kahanggi adalah anggota kerabat satu keturunan. Anak Boru adalah anggota kerabat yang berstatus sebagai penerima anak dara dalam perkawinan (kelompok calon pengantin laki-laki).

Antara para kerabat yang berstatus sebagai  Mora dan berstatus sebagai  Anak Boru terdapat hubungan afinal (perkawinan). Diantara sesama kerabat yang berstatus sebagai Kahanggi terdapat hubungan konsanguinial atau hubungan darah. Sehingga ada ungkapan yang berbunyi:  “Somba marmora elek maranak boru, manat-manat markahanggi” yang artinya: “hormat terhadap mora, pandai-pandai mengambil hati anak boru, bersikap cermat terhadap kahanggi” menunjukkan hak dan kewajiban seseorang terhadap para kerabatnya yang punya status sebagai mora, anak boru dan kahanggi.


Bagi masyarakat Tapanuli Selatan perkawinan bukan saja menyangkut penggabungan dua insan saja, tetapi lebih kepada penyatuan dua keluarga besar.Garis keturunan pada masyarakat Tapanuli Selatan adalah patrilineal (garis keturunan dari pihak Ayah).

Berdasarkan garis keturunan yang patrilineal itu, masyarakat Tapanuli Selatan membentuk kelompok-kelompok kekerabatan besar yang disebut  marga (clan) sebagai gabungan dari orang-orang yang merupakan keturunan dari seorang kakek bersama. Menurut kaidah adat masyarakat Tapanuli Selatan, orang-orang yang semarga tidak boleh kawin. Dengan demikian pembatasan jodoh dan perkawinan yang didasarkan pada prinsip eksogami marga. Sampai sekarang prinsip perkawinan eksogami marga itu masih terus diikuti oleh sebagian besar dari anggota masyarakat Tapanuli Selatan meskipun agama Islam atau agama Kristen yang mereka anut tidak melarang perkawinan antara orang-orang yang semarga.Terlarangnya orang-orang yang semarga melakukan perkawinan karena menurut prinsip adat masyarakat Tapanuli Selatan orang-orang yang semarga adalah keturunan dari seorang kakek bersama.

Oleh karena itu mereka dipandang sebagai orang-orang yang “sedarah” atau markahanggi (berabang-adik).Namun pada masa belakangan ini generasi muda masyarakat Tapanuli Selatan sudah tidak begitu terikat oleh prinsip perkawinan seperti yang dikemukakan di atas. Generasi muda sudah cenderung untuk dibebaskan memilih sendiri jodoh yang mereka sukai. Kemajuan pendidikan, keadaan pergaulan muda-mudi yang sudah cukup bebas dan masuknya dengan mudah berbagai pengaruh dari luar melalui bermacam sarana komunikasi modern dan media, mungkin sekali merupakan faktor-faktor yang mendorong generasi muda untuk membebaskan diri dari prinsip perkawinan yang tradisional itu.

Tetapi meskipun demikian, masih cukup banyak juga orang tua yang cenderung untuk mengkawinkan anak mereka dengan yang semarga, agar hubungan kekerabatan antara mereka tetap terpelihara keeratannya seperti yang dikehendaki oleh adat khas pada upacara perkawinan di Tapanuli Selatan adalah Mangaririt Boru. Yang dimaksud dengan Mangaririt Boru adalah tahapan meresek boru yang akan dipinang, dengan maksud mengetahui apakah boru itu telah dipinang oleh orang lain atau belum.

Yang pergi untuk melakukan Mangaririt Boru ini adalah anak boru dari pihak laki-laki.Pada tradisi perkawinan di Tapanuli Selatan zaman dahulu yang juga dikenal dengan istilah  Upacara  Mengantar Tanda.  Mengantar Tanda adalah pihak laki-laki menyerahkan kepada pihak wanita tanda sebagai ikatan dan wanita pun memberikan tanda sebagai balasannya. Biasanya tanda yang diberikan terdiri dari: sejumlah uang, emas, barang tekstil. Pihak wanita  juga akan memberikan tanda balasan.

Dibaca : 6382 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER