Iklan Investor Pialang
Selasa, 23 Januari 2018 | 09:33 WIB

REOG PONOROGO Karakter dan Jati diri Bangsa

Jumat, 14 September 2012 / seni & budaya
REOG PONOROGO Karakter dan Jati diri Bangsa

Salah satu ciri khas seni budaya Kabupaten Ponorogo Jawa Timur adalah kesenian Reog Ponorogo. Reog, sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan serta tak lepas pula dari dunia mistis dan kekuatan supranatural. Hingga kini , seni budaya Reog ini, tetap lestari dan menjadi ikon daerah Ponorogo. Reog ini biasanya digelar di acara besar seperti bersih desa, hajatan dan rutinanitas pada event grebek suro. "Acara Seni budaya Reog ini, digelar acara besar, khususnya di Grebek Suro," kata Imam Mahfudz mantan Presiden BEM STAIN Ponorogo ini kepada Majalah Otda Indonesia belum lama ini. Ia mengatakan Reog ini, seperti cerita sejarahnya adalah simbol-simbol yang penuh makna bagi generasi muda. Misalnya, Tokoh Warok yang gagah berani dan menegakkan titah hati nurani yang suci, pemberani dan berani menentang ketidakadilan yang dilakukan penguasa. Mahfudz berharap Reog tidak hanya dipahami sebagai sebuah kesenian tari.

Tetapi bagaimana Reog bisa menjadi sebuah pesan moral yang dibingkai dalam miniatur tari. Sehingga Reog lebih lekat sebagai jati diri wong Ponorogo dan juga pada Bangsa. "Kita bisa ngurumati (melestarikan) budaya nenek moyang yang adiluhur salah satunya Reog. Sehingga tidak hanya menampilkan Reog sebagai pembuka seremonial, tetapi lebih jauh sebagai karakter dan budaya bangsa," ujarnya. Reog mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung. Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, unik, eksotis serta membangkitkan semangat.

Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri.

Selain itu, agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya.

BACA SELENGKAPNYA DI MAJALAH OTDA - EDISI SPESIAL IDUL FITRI - AGUST - SEPT 2012

 

Dibaca : 2805 kali
Baru dibaca Terpopuler
SIGNUP FOR NEWSLETTER